Header Ads

  • Breaking News

    Lira Baru dan Taruhan Ekonomi Suriah

    Pemerintah Suriah mulai memberi sinyal kuat tentang arah baru kebijakan ekonominya pasca-perubahan politik, seiring menguatnya wacana penerbitan mata uang baru dan reformasi menyeluruh Bank Sentral Suriah. Isu ini menjadi sorotan dalam program “Salon al-Jumhouriya” yang dipandu Ahmed Fakhoury di saluran SyriaNow, yang menghadirkan langsung Gubernur Bank Sentral Suriah, Dr. Abdul Qader Hasriya.

    Dalam perbincangan tersebut, Hasriya menjelaskan bahwa rencana penerbitan mata uang baru bukanlah langkah simbolik semata, melainkan keputusan teknis untuk menata ulang sistem moneter yang porak-poranda akibat kebijakan lama. Salah satu poin utama adalah penghapusan dua angka nol dari Lira Suriah guna mempermudah transaksi dan perhitungan sehari-hari.

    Hasriya menegaskan bahwa langkah ini tidak serta-merta mengubah nilai riil Lira pada saat penerbitan. Menurutnya, redenominasi hanya alat administrasi, bukan solusi instan atas krisis ekonomi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.

    Bank Sentral juga menyiapkan masa transisi selama 90 hari, di mana mata uang lama dan baru akan beredar bersamaan. Setelah periode itu berakhir, mata uang lama akan ditarik secara bertahap dari peredaran.

    Program tersebut juga menyinggung sejarah panjang Lira Suriah, dari masa kejayaannya pada 1950-an ketika satu dolar AS setara sekitar dua Lira, hingga keruntuhan drastis yang terjadi di era konflik. Kerusakan nilai mata uang disebut sebagai hasil akumulasi korupsi, sistem ekonomi tertutup, serta pembiayaan perang yang tak terkendali.

    Hasriya secara terbuka mengkritik praktik lama Bank Sentral yang kehilangan independensinya dan berubah menjadi alat pemerintah untuk mencetak uang tanpa jaminan. Ia menekankan bahwa pemulihan kedaulatan moneter hanya mungkin jika Bank Sentral kembali berdiri sebagai institusi independen.

    Salah satu isu krusial yang dibahas adalah melonjaknya jumlah uang beredar. Pada 2011, suplai uang Suriah hanya sekitar satu triliun Lira, namun menjelang runtuhnya rezim lama, angka itu membengkak hingga 39 triliun Lira.

    Lonjakan tersebut, menurut Hasriya, bukan akibat pencurian fisik uang dari brankas negara, melainkan hasil kebijakan cetak uang kosong yang dilakukan bertahun-tahun untuk menutup defisit dan membiayai subsidi. Dampaknya adalah inflasi ekstrem dan runtuhnya nilai tukar Lira lebih dari 99 persen.

    Gubernur Bank Sentral juga meluruskan rumor tentang raibnya cadangan emas negara. Ia menegaskan bahwa cadangan emas Suriah tetap aman, meski ada dana milik perusahaan penukaran uang yang terdampak pada masa transisi kekuasaan.

    Di luar kebijakan moneter, pemerintah juga menaruh harapan besar pada digitalisasi sistem keuangan. Hasriya mengungkapkan rencana penerapan sistem pembayaran elektronik dan penjajakan kerja sama dengan jaringan global seperti MasterCard dan Visa.

    Langkah ini dipandang sebagai upaya mengintegrasikan kembali Suriah ke dalam sistem keuangan internasional setelah bertahun-tahun terisolasi. Namun, ia mengakui bahwa proses tersebut tidak sederhana dan memerlukan reformasi mendalam.

    Sistem SWIFT, menurut Hasriya, sudah mulai aktif kembali, tetapi tantangan utama terletak pada pembangunan hubungan korespondensi antarbank serta kepatuhan terhadap standar anti-pencucian uang internasional.

    Masalah likuiditas dan korupsi warisan masa lalu juga menjadi sorotan tajam. Hasriya menyebut adanya kontrak fiktif bernilai puluhan juta dolar yang membebani sistem keuangan negara dan menggerogoti kepercayaan publik.

    Meski demikian, ia menyampaikan optimisme bahwa Suriah memiliki peluang bangkit. Dengan stabilitas politik dan dukungan masyarakat, Suriah diyakini bisa meniru kebangkitan ekonomi negara-negara pascakonflik seperti Vietnam.

    Dalam salah satu pernyataannya, Hasriya menyebut Suriah sebagai “bintang yang sedang terbit” di kawasan, dengan target lima tahun untuk mulai menuai hasil reformasi ekonomi.

    Optimisme ini, bagaimanapun, disertai peringatan bahwa tanpa disiplin fiskal dan reformasi institusional, redenominasi mata uang hanya akan menjadi kosmetik belaka.

    Program “Salon al-Jumhouriya” ditutup dengan segmen satir menggunakan teknologi AI yang menampilkan sosok Bashar di Moskow, mengakui pencurian dana rakyat selama bertahun-tahun. Segmen ini mencerminkan upaya membangun narasi baru tentang pertanggungjawaban masa lalu.

    Bagi publik Suriah, wacana Lira baru dan reformasi Bank Sentral menjadi simbol harapan sekaligus ujian. Harapan akan stabilitas ekonomi, dan ujian apakah janji perubahan benar-benar akan terwujud.

    Ke depan, keberhasilan langkah ini akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, transparansi, serta kemampuan pemerintah memulihkan kepercayaan rakyat terhadap mata uang nasionalnya.

    Di tengah kehancuran ekonomi yang diwariskan perang dan salah urus, Lira baru bukan sekadar uang, melainkan pertaruhan atas masa depan ekonomi Suriah itu sendiri.

    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    Perumahan Islami |   • Bisnis Bakrie |   • Bisnis Kalla |   • Rancang Ulang |   • Bisnis Khairul Tanjung |   • Chow Kit |   • Pengusaha |   • Ayo Buka Toko |   • Wisata |   • Medco |   • Fansur |   • Autopart |   • Rumpin |   • Berita Aja |   • SWPD |   • Polemik |   • Perkebunan |   • Trumon |   • Legenda Putri Hijau |   • Ambalat conflictTerumbu Karang |   • Budidaya Ikan Hias Air Tawar |   • Budidaya Sawit |   • FlyDubai |   • PT Skunk Engineering Jakarta |   • Sejarah |   • They Rape Aour Grandma |   • Museum Sumut |   • Sorkam |   • Study |   • Indonesian University |   • Scholarship in Indonesia |   • Arabian InvestorsD-8 |   • BRIC-MIT |   • Negeriads-ku |   • Panen Iklan |   • PPC Indo |   • Adsensecamp |   • PPCMuslim |   • Iklan-ku |   • Iklan Buku |   • Internet Desa |   • Lowongan Kerja |   • Cari Uang Online |   • Pengusaha Indonesia |   • Indonesia Defense |   • Directory Bisnis |   • Inpire |   • Biofuel |   • Innovation |